[PART I ] I Still Love You| Cerbung by Ladyyohana - Minggu 17 Juni 2018
Apa kabar?
Boleh aku katakan sesuatu..., aku rindu kamu, sungguh teramat rindu.
🍃I Stiil Love You ... 🍃
Pagiku masih sama, menyiapakan segala keperluan untuk berkuli-ah. Tidak, aku bercanda. Aku memang sedang sibuk berkuliah, menempuh pendidikan untuk masa depanku. Untuk anak-anakku kelak.
Harapanku saat ini aku ingin segera lulus dan langsung mendapatkan perkejaan. Tapi apa daya jika hatiku masih terpaku padamu, apakah aku bisa sefokus dulu? Saat hati ini masih sepi, belum ada kamu yang mengobrak-abrikan isi hati ini.
Di juniku tahun lalu, belum ada kamu. Tapi juniku tahun ini semua tentangku pasti ada kamu.
Hari ini aku tidak ingin melihat wajahmu. Aku lelah, aku tidak ingin menyimpan raut wajah itu. Tersenyum kepadaku, kau pikir aku kuat melihatnya? Astaga kamu harus tahu senyum mu itu buat aku rindu. Ah, sudahlah percuma aku katakan kamu takkan tahu.
30 Juni 2016
Letih....
Kakiku mati rasa. Perjalanan jauh ini membuatku seperti ingin mati saja. Ya, aku sedang ada study lapangan ke desa. Ini bukan tentang kuliah. Ini acara fakultasku. Aku berada di sebuah kelompok kecil, kami dipertemukan secara acak; dari jurusan yang berbeda-beda.
Ada aku Azkia, dari jurusanku hanya ada aku. Tidak adil! Teman-temanku berkumpul di kelompok lain, disini aku sendiri. Yasudahlah tak apa aku sekarang punya teman baru.
Balik lagi diperjalanku saat itu, aku lelah, letih, lesu, dahagaku takkaruan. Aku berjalan paling belakang, tanpa sadar ... aku kehilangan rombongan.
Aku tidak tersesat. Aku ingat jalan pulang, tapi ... hati aku yang tersesat. Saat langit sore menggelap, awan akan segera menangis, tiba-tiba ada yang datang dengan sejuta kejutan.
"Kamu ngapain disini sendiri?" Tanyanya cemas.
Dia tinggi semanpai, sehingga aku harus sedikit mendangak melihatnya. Dia ....
Waktunya pas sekali, hujan tiba-tiba turun. Tidak! Kenapa moment ini romantis. Tolong ... ada sesuatu di dada ini yang ingin berlonjak. Saat tanganya mulai menyentuhku; menarikku dari serbuan rintik yang sudah turun dengan pasukannya.
Sambil mengibas-ngibaskan sisa air di bajunya ia menatapku.
"Kelompok berapa dek?" Tanyanya, membuatku tiba-tiba kaku.
"Kelompok 7 , bang." Jawabku sedikit ketakutan.
Bukan karena dia seram, dia tampan sangat, hanya dia ada seorang panitia dari komisi disiplin, yang biasa kami sebut komdis. Aku memang tidak melakukan kesalahan, tapi karena memang para komdis selalu terkesan sinis, aku jadi merinding menatap mereka.
"Habis hujan, kakak antar ya."
"Oh kakak."
"Jadi aku harus panggil kakak, atau abang?"
"Kakak aja,"
"Oke siap."
Kami menikmati hujan sore itu. Manis. Aku tak tahan jika harus mengenangnya terus-menerus. Dia terlihat tetap manis walau sedang memasang wajah sinis itu.
Ada yang harus kamu tahu, sekarang aku tiba-tiba menggigil. Aku lupa! Aku tidak bisa terkena dingin. Ya Tuhan, aku tidak mau di situasi seperti ini.
"Kamu kenapa, dek?"
"Enggak kok bang, eh kak." Jawabku mencoba menyembunyikan.
Dia hanya diam menatapku, aku tahu walau aku sedang menatap hujan di depan sana.
Aku memang suka hujan, tanganku tanpa sadar terulur ke arah hujan sedang berguguran. Rasanya, menyenangkan. Ketika tetesan hujan itu menyentuh telapak tanganku.
Kamu tahu apa yang lebih menyenangkan? Tapi ini juga menegangkan. Tiba-tiba ada tangan terasa di pundakku. Ya, itu tangan abang itu, ia sedang memakaikanku almamater yang sedang ia pakai. Boleh tidak aku berteriak? Aku gugup, biasanya kalau seperti itu aku ingin berteriak. Aku memang sedikit berlebihan. Harap maklumi.
Aku merasa sedang ada dalam dimensi lain, dimana dimensi ini hanya ada di dalam drama saja. Saat hal itu terjadi, aku teringat satu hal; aku lupa memakai almamater yang seharusnya dipakai saat keluar dari rumah, ya itu sudah peraturannya.
Aku takut ....
Kalau abang ini eh kakak ini sadar aku tidak pakai almamater pasti aku akan diberi poin pelanggaran, tapi lebih parahnya lagi kalau kakak ini tahu aku lagi kesenengan, dia pasti kasih aku ... apa yaa, aku gak tau .
Diam. Kami hanya diam saja, berpindah posisi. Menatapi langit, kapan kira-kira hujan ini berhenti. Lama sekali.
Sekitar satu jam hujan menderas tanpa henti. Kamu harus bayangkan bagaimana satu jam itu berlalu. Aku kasih bocoran, kakak itu baik, walau ya mukanya sinis, dia sesekali menanyakanku beberapa pertanyaan.
"Jurusan apa dek?"
"Rumah kelompok mu sebelah mana?"
"Alergi dingin?"
"Jangan main hujan"
"Kenapa kamu sendirian?"
"Kelompok mu yang lain mana?"
"Mau di anter apa enggak?"
"Nama kamu siapa?"
"Punya pacar?"
"Nomor hape mu berapa?"
Ets.... tenang tengan tiga pertanyaan terakhir hanya halusinasiku saja. Tak mungkin kakak itu bertanya seperti itu. Dan pada akhirnya kakak itu mengantar ku sampai di depan halaman rumah. Aku diminta untuk segera masuk, dingin katanya.
Dia pergi. Aku lupa, almamaternya? Aku berbalik lalu berlari. Dia belum jauh. Iya kami sedari tadi jalan berdua dia bawah langit sore yang cerah setelah hujan.
Ah... Juniku. Kau begitu manis untuk diceritakan.
To be continue .....
😂😂😂😂
BalasHapus